Breaking News
15:43

DARI KRISIS BIAYA HIDUP KE KRISIS KEPERCAYAAN: JAM MALAM TAK CUKUP MEREDAM AMARAH RAKYAT PRANCIS.

Pasangan Viral Enjoy Minum Minum Di Paris Saat Kericuhan Terjadi Reuters 1792468515819 169 1
Pasangan viral enjoy minum-minum di Paris saat kericuhan terjadi (Foto: Reuters)
Bagikan
Lihat Tersimpan

JKTGLOBALINSIGHT  — Ketika pemerintah mulai memperluas pemberlakuan jam malam untuk meredam kerusuhan, persoalan yang dihadapi Prancis sesungguhnya tidak lagi sebatas bagaimana mengendalikan massa di jalanan. Tantangan yang jauh lebih besar adalah memulihkan kepercayaan masyarakat di tengah tekanan biaya hidup, keresahan sosial, dan pertanyaan mengenai kemampuan negara melindungi kepentingan warganya.

Pada Selasa, 20 Oktober 2026, pemerintah Prancis memperluas pembatasan aktivitas malam hari ke sejumlah wilayah, termasuk Paris, Lyon, Nice, dan sebagian Gironde. Kebijakan itu menyusul demonstrasi yang menentang kenaikan biaya hidup dan berujung pada aksi kekerasan, penjarahan, serta perusakan fasilitas umum.

Langkah tersebut memperlihatkan keseriusan pemerintah memulihkan ketertiban. Namun, di balik operasi keamanan itu, terdapat persoalan mendasar yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan pengerahan polisi: mengapa keresahan masyarakat berkembang menjadi gelombang protes yang semakin sulit dikendalikan?

Ketika persoalan ekonomi berubah menjadi ledakan sosial

Demonstrasi di Prancis menjadi pengingat bahwa persoalan ekonomi dapat meluas menjadi krisis politik ketika masyarakat merasa tekanan hidup semakin berat, sementara respons pemerintah dinilai belum menjawab kebutuhan mereka.

Kenaikan biaya hidup bukan sekadar persoalan angka inflasi atau pergerakan harga di pasar. Bagi rumah tangga, tekanan tersebut berkaitan langsung dengan kemampuan membayar kebutuhan sehari-hari, mempertahankan kualitas hidup, dan merencanakan masa depan.

Ketika pengeluaran meningkat lebih cepat daripada kemampuan ekonomi keluarga, rasa tidak aman dapat tumbuh menjadi ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah.

Dalam situasi seperti ini, demonstrasi menjadi saluran untuk menyampaikan tuntutan. Namun, ketika aksi berubah menjadi penjarahan, pembakaran, dan kekerasan, persoalannya memasuki wilayah berbeda. Hak masyarakat menyampaikan pendapat harus tetap dihormati, tetapi tindakan kriminal tidak dapat dibenarkan atas nama protes sosial.

Pemerintah Prancis menghadapi dua pekerjaan sekaligus: melindungi masyarakat dari kekerasan dan menjawab persoalan ekonomi yang menjadi salah satu pemicu ketidakpuasan.

Kegagalan menangani salah satunya berisiko memperpanjang krisis.

Jam malam: solusi darurat, bukan penyelesaian akar masalah

Perluasan jam malam merupakan langkah pembatasan yang ditujukan untuk mengurangi peluang terjadinya kekerasan dan penjarahan pada malam hari.

Di Paris, pembatasan diberlakukan di sekitar Place de la République dan kawasan Les Halles. Di Lyon, pembatasan mencakup sebagian kawasan Presqu’île. Sementara itu, Nice dan sebagian wilayah Gironde menerapkan ketentuan yang antara lain menyasar anak di bawah umur.

Pemerintah juga mendorong otoritas lokal mengambil langkah sesuai tingkat risiko di wilayah masing-masing.

Perdana Menteri Sébastien Lecornu menyatakan bahwa pembatasan yang diterapkan di sejumlah kawasan membantu menciptakan situasi malam yang lebih tenang. Pemerintah tetap membuka kemungkinan pemberlakuan pembatasan tambahan apabila kondisi membutuhkan.

Namun, ketenangan jalanan tidak otomatis berarti persoalan sosial telah selesai.

Jam malam dapat membatasi pergerakan masyarakat untuk sementara waktu. Aparat dapat mengamankan kawasan rawan, menangkap pelaku kekerasan, dan mencegah penjarahan berulang. Akan tetapi, kebijakan keamanan tidak dengan sendirinya menurunkan biaya hidup, meningkatkan daya beli, atau memulihkan keyakinan masyarakat terhadap pemerintah.

Jika penyebab ketidakpuasan tidak ditangani, ketenangan yang tercipta berpotensi hanya menjadi jeda sebelum munculnya gelombang protes berikutnya.

Dunia usaha ikut menanggung harga kerusuhan

Di tengah krisis, kelompok yang kerap kurang mendapat perhatian adalah pelaku usaha yang menjadi korban langsung kekerasan dan penjarahan.

Toko yang rusak, barang dagangan yang hilang, kegiatan usaha yang terhenti, serta meningkatnya kebutuhan pengamanan dapat menambah beban perusahaan. Bagi usaha kecil dan menengah, satu kejadian penjarahan dapat mengganggu arus kas, mengurangi pendapatan, bahkan mengancam kelangsungan bisnis.

Dampaknya juga dapat menjalar ke pekerja. Ketika toko tutup atau kegiatan ekonomi terganggu, pendapatan pekerja ikut terancam. Konsumen pun dapat menghadapi keterbatasan akses terhadap barang dan jasa.

Pada tingkat yang lebih luas, ketidakpastian sosial dapat memengaruhi keputusan investasi. Pengusaha membutuhkan kepastian hukum, keamanan aset, kelancaran distribusi, serta lingkungan yang memungkinkan kegiatan produksi dan perdagangan berjalan normal.

Apabila kerusuhan berlangsung berulang, biaya menjalankan usaha dapat meningkat. Perusahaan mungkin harus mengalokasikan lebih banyak dana untuk keamanan, menunda ekspansi, atau mengevaluasi kembali risiko operasionalnya.

Reuters melaporkan pada 20 Oktober bahwa kerusuhan dan ketidakpastian politik turut menekan sentimen pasar keuangan Prancis. Imbal hasil obligasi pemerintah meningkat hingga mencapai tingkat tertinggi dalam 24 tahun, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap perkembangan situasi.

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa stabilitas sosial bukan semata-mata agenda kepolisian. Stabilitas merupakan salah satu fondasi penting bagi kepercayaan investor, aktivitas bisnis, dan pertumbuhan ekonomi.

Polisi Antihuru Hara Siaga Di Jalanan Prancis Usai Demo Memprotes Kenaikan Biaya Hidup Berujung Rusuh 1792469801698 169 1
Polisi antihuru-hara siaga di jalanan Prancis usai demo memprotes kenaikan biaya hidup berujung rusuh (REUTERS/Abdul Saboor)

Ketika keamanan dan kebebasan harus berjalan beriringan

Pemerintah memiliki kewajiban menjaga ketertiban umum. Akan tetapi, penggunaan kewenangan untuk membatasi aktivitas masyarakat harus tetap proporsional, memiliki dasar hukum, dan disesuaikan dengan ancaman yang dihadapi.

Pembatasan yang terlalu luas atau berlangsung lebih lama daripada yang diperlukan berisiko membebani warga yang tidak terlibat dalam kerusuhan. Pekerja malam, pemilik usaha, penghuni kawasan terdampak, dan masyarakat yang hendak menjalankan aktivitas sehari-hari juga perlu mendapat kepastian.

Karena itu, efektivitas kebijakan tidak cukup diukur dari berkurangnya jumlah orang di jalanan. Pemerintah perlu menunjukkan bahwa tindakan tersebut benar-benar menekan kekerasan, melindungi masyarakat, serta tidak digunakan secara berlebihan terhadap warga yang menjalankan hak demokratisnya.

Evaluasi terhadap respons aparat juga menjadi penting. Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez sebelumnya mengakui bahwa polisi kehilangan kendali dalam sejumlah situasi selama kerusuhan akhir pekan. Pengakuan tersebut menunjukkan perlunya evaluasi atas kesiapan intelijen, koordinasi, dan strategi pengamanan.

Ketegasan pemerintah akan lebih meyakinkan apabila disertai transparansi dan akuntabilitas. Negara harus mampu membedakan pengunjuk rasa damai, pelaku kekerasan, dan pihak yang memanfaatkan kekacauan untuk melakukan kejahatan.

Ujian politik menjelang pemilihan presiden

Kerusuhan ini juga berlangsung dalam situasi politik yang sensitif, menjelang pemilihan presiden Prancis berikutnya pada 2027.

Ketika masyarakat menghadapi tekanan ekonomi dan keamanan, respons pemerintah dapat memengaruhi persepsi pemilih terhadap kepemimpinan nasional. Pemerintah yang dinilai lamban menghadapi kerusuhan dapat kehilangan kepercayaan, sementara kebijakan represif yang dianggap tidak proporsional juga berpotensi menimbulkan kritik.

Dalam kondisi tersebut, kelompok politik yang menawarkan perubahan kebijakan ekonomi, pendekatan keamanan yang lebih keras, atau kritik terhadap pemerintahan yang berkuasa dapat memperoleh ruang lebih besar.

Meski demikian, tidak tepat menyimpulkan bahwa seluruh demonstrasi mencerminkan satu aspirasi politik yang seragam. Ketidakpuasan masyarakat dapat berasal dari berbagai persoalan, mulai dari biaya hidup hingga kondisi pendidikan dan pelayanan publik.

Tantangan pemerintah adalah memahami keragaman tuntutan itu tanpa membiarkan kekerasan mengambil alih ruang demokrasi.

Pemerintah perlu bergerak dari pengamanan menuju pemulihan kepercayaan

Perluasan jam malam dapat menjadi instrumen darurat untuk mencegah kerusuhan berulang. Namun, kebijakan tersebut perlu diikuti langkah yang lebih menyeluruh.

Pertama, pemerintah harus memulihkan keamanan dengan penegakan hukum yang terukur, termasuk mengusut pelaku kekerasan dan penjarahan serta melindungi warga yang tidak terlibat.

Kedua, pemerintah perlu memperkuat dialog dengan kelompok masyarakat, pekerja, pelajar, pelaku usaha, dan pemerintah daerah untuk memahami tuntutan yang berkembang.

Ketiga, kebijakan ekonomi perlu diarahkan pada persoalan konkret yang dirasakan rumah tangga, termasuk keterjangkauan kebutuhan dasar dan kemampuan masyarakat mempertahankan daya beli.

Keempat, pemerintah harus memastikan bahwa pemulihan aktivitas usaha berjalan seiring dengan perlindungan pekerja dan masyarakat terdampak. Kepastian keamanan, dukungan pemulihan usaha yang tepat sasaran, dan komunikasi kebijakan yang transparan dapat membantu mengurangi ketidakpastian.

Terakhir, pemerintah perlu menyampaikan indikator yang jelas untuk mengevaluasi pembatasan, termasuk perkembangan kekerasan, perlindungan warga, serta dasar untuk mempertahankan atau mencabut jam malam.

Langkah-langkah tersebut tidak menjamin seluruh ketegangan akan segera berakhir. Namun, pendekatan yang menggabungkan keamanan, kebijakan ekonomi, dan dialog publik memberikan jalan keluar yang lebih berkelanjutan daripada mengandalkan pembatasan pergerakan semata.

Penutup: negara tidak cukup hanya menguasai jalanan

Kerusuhan di Prancis memperlihatkan bahwa kemampuan negara tidak hanya diuji ketika aparat harus menghadapi massa. Negara juga diuji ketika masyarakat mempertanyakan apakah kebijakan yang dijalankan mampu menjawab tekanan kehidupan sehari-hari.

Ketertiban umum merupakan syarat bagi berjalannya ekonomi dan demokrasi. Namun, ketertiban yang berkelanjutan membutuhkan lebih dari sekadar pengawasan dan penindakan. Ia memerlukan kepercayaan, keadilan dalam penegakan hukum, serta kebijakan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Pemerintah Prancis kini menghadapi pilihan strategis: menjadikan jam malam sebagai bagian dari langkah darurat yang diikuti pembenahan kebijakan, atau berhenti pada pemulihan ketenangan sesaat tanpa menyelesaikan persoalan yang mendasarinya.

Sebab, jalan raya mungkin dapat dikosongkan dengan pembatasan, tetapi keresahan masyarakat tidak akan hilang hanya karena orang tidak lagi berkumpul di jalanan.

Bagi pemerintah mana pun, pelajaran dari Prancis cukup jelas: stabilitas yang kokoh bukan hanya tentang kemampuan negara mengendalikan kerusuhan, melainkan juga kemampuan mencegah persoalan ekonomi dan sosial berkembang menjadi krisis kepercayaan.

https://jakartaglobalinsight.com – Richard

Sumber rujukan: Reuters, 20 Oktober 2026 — Curfews help calm France but more protests planned. detikNews, 20 Oktober 2026 — Demo Rusuh di Prancis, Jam Malam Diberlakukan Lebih Luas. Euronews, 20 Oktober 2026 — France to impose new curfews where ‘situation requires it’, PM Lecornu says.

 

 

Penulis

admin@jakartainsight

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *